Hitam Putih

Hidup memang penuh teka-teki
Misteri selalu menghampiri
Sulit ditebak apalagi dimengerti
Terkadang takkan mampu dipahami

Seringkali hujan badai datang menakutkan
Datang dengan derasnya terpaan tanpa alasan
Namun adakala pelangi hadir memberi harapan
Memberikan keniscayaan dalam kemustahilan

Hanya kuasa Sang Ilahi
Sang penentu hitam putih hidup ini
Tetap berjuang dan menjalani
Demi hidup yang lebih berarti

Berdamai dengan ujian dan keluh kesah
Pasti telah tersimpan rencana indah
Tersembunyi dibalik doa yang tercurah
Mengalir dalam tetesan air mata yang tumpah

Semua akan indah pada waktunya
Menyertai pengorbanan tanpa sia-sia
Hitam putih merangkai butiran cerita
Menyatu dalam warna-warna penuh makna

Dilema

Pilih yang mana?
Maunya hitam tapi adanya putih
Maunya putih tapi adanya hitam
Atau pilih abu-abu saja?
Tapi nanti jadinya kelabu

Mau dibawa kemana?
Ke laut atau ke hutan?
Ke laut bisa tenggelam jika tak bisa berenang
Ke hutan bisa tersesat jika tak tahu arah
Memang semua serba salah

Harus bagaimana?
Berjalan atau berlari?
Jika berjalan tak kunjung sampai
Tapi jika berlari raga sudah tak mampu lagi
Andai bersayap pasti sudah terbang jauh

Ingin seperti apa?
Seperti bulan yang menyinari gelapnya malam?
Seperti pelangi yang memberikan keindahan?
Atau seperti udara yang akan selalu ada?
Ingin rasanya menjadi ketiganya

Dilema memang rumit
Bahkan lebih rumit dari rumus aljabar
BagaƬ buah simalakama
Maju kena mundur kena
Susah mau pilih yang mana

Namanya saja dilema
Pasti butuh beribu alasan didalamnya
Kadang bisa jadi hantu yang muncul kapan saja
Kadang seperti orang kasmaran yang selalu ada dalam pikiran
Ujung-ujungnya gegana pun mendera

Sang Pejuang

Api membara tanpa suara
Jiwa baja siap bergelora
Merajut asa tak pernah sirna
Melahirkan cita dan juga cinta

Gairah pantang untuk surut
Bagai ombak menari di laut
Tekad mulia tak akan kusut
Sekalipun daun dan ranting hanyut

Sang pejuang menabuh genderang
Tetap setia dalam berjuang
Menggenggam lentera sang penerang
Menggapai bintang menjadi pemenang

Jalan berliku tak beralasan
Gelap dan terang menghiasi pengorbanan
Perjuangan hakiki labuhan angan
Keniscayaan mengukir impian

Keteguhan hati tak sedikitpun rapuh
Walau bersilat melawan guruh
Nurani tak sempat berkeluh
Meski berenang di air keruh

Gelora semangat tak kunjung habis
Batu karang tak terkikis
Badai menerjang selalu optimis
Lautan garam rasanya manis

Sang pejuang tiada lelah
Goreskan sejarah di akhir kisah
Maju berperang tanpa kalah
Melukis hikmah dan petuah

Kejora Yang Dirindukan

Kaulah bentuk terindah
Anugerah dari sang Maha Pencipta
Sinarmu menghangatkanku hingga merasuk dalam kalbu
Bisikkan lembutmu memanggil jiwa ini
Bayangmu seperti udara yang selalu ada
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Menjadi sesuatu yang selalu kau rindu

Kejora..
Rindu ini menyapamu
Rindu yang tak lekang oleh waktu
Seperti mentari yang senantiasa menyinari
Dan hembusan angin yang menyejukkan hati
Senyumanmu memberikan keteduhan
Seperti kilauan bintang malam yang membawa kedamaian

Kejora..
Sentuhlah jemariku
Bawalah aku terbang menembus ruang dan waktu
Terbang bersamamu dan keabadian
Sayap-sayapku takkan ku kepakkan
Sampai kau datang membawaku pulang
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Aku ingin kau mengerti penantian ini tak bertepi

Ijinkan aku titipkan rindu termanis hanya untukmu
Sampai kau datang melepaskanku dari kesunyian hati

Permainan Hati

Wahai kaum adam..
Tak usah kau berjanji untuk setia menemani
Jika di akhir kisah kau pergi meninggalkannya sendiri
Tak usah kau berjanji untuk sehidup semati
Jika pada akhirnya kau malah mengingkari
Tak usah kau membuatnya setia menunggu dengan sejuta harapan
Jika kau tak mampu memberinya kepastian

Tegakah kau membuatnya menangis dan merana
Menderita karena rasa cinta yang tak berujung
Ingatkah kau bahwa dirinya adalah tulang rusuk yang bengkok
Tak sadarkah kau tanpanya kau tak akan pernah ada

Tak usah kau berbuat sesuatu dan memberinya impian
Jika tak bisa kau pertanggungjawabkan
Cukup sudah air mata yang mengalir
Karena harapan yang pupus tak terukir

Wahai kaum adam..
Tak usah kau membuatnya tenggelam dalam lautan cintamu
Jika kau tak inginkan dirinya seutuhnya
Tak usah kau jerat dengan rayuan manismu
Jika kau hanya memberinya luka

Terlalu lembut dan berharga untuk sekedar kau jadikan permainanmu
Permainan hati tanpa kepastian

MY SELF

Hai sahabat pena..
Perkenalkan namaku Rachma Laksmi Marnaningtyas. Aku biasa dipanggil Rachma ataupun Tyas. Lahir di Karanganyar, 27 Februari 1997.
Disela-sela aktivitasku, aku memberi waktu kepada jemariku untuk berekspresi. Aku memiliki ketertarikan dalam menulis karena bagiku menulis itu asyik, menarik, dan menyenangkan. Bagiku menulis merupakan salah satu caraku untuk berproses dan berprogress. Tak hanya itu, menulis juga sebagai media untuk berekspresi, mencurahkan perasaan, melatih kreatifitas, menuangkan ide, mengembangkan imajinasi, menyalurkan opini, dan melatih untuk mampu berfikir kritis.
Meski aku masih harus banyak belajar, minim pengalaman, dan tulisanku masih sangat jauh dari kata sempurna, namun aku berharap tulisan-tulisan kecilku ini akan mampu memberikan inspirasi dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Aku juga berharap suatu saat nanti tulisanku dapat menjadi karya yang indah, yang dapat tersimpan menjadi kenangan manis dan dapat dikenang oleh banyak orang.